BKPI Universitas Al-Falah As-Sunniyah Kencong
Uncategorized 17 Juni 2026 · 5 menit baca

Ngaji Empati Perdana BKPI UAS: Menyuburkan Keimanan dan Meneguhkan Empati sebagai Akhlak Jiwa

Ngaji Empati Perdana BKPI UAS: Menyuburkan Keimanan dan Meneguhkan Empati sebagai Akhlak Jiwa_Jember – Suasana berbeda tampak di Aula Khofifah Indar Parawansa (KIP) Universitas Al-Falah Assunniyah (UAS) Kencong Jember pada Sabtu Legi, 13 Juni 2026. Ratusan mahasiswa bersama para dosen Prog...

BK bkpi-uas Disunting oleh bkpi-uas
Ngaji Empati Perdana BKPI UAS: Menyuburkan Keimanan dan Meneguhkan Empati sebagai Akhlak Jiwa
Ngaji Empati Perdana BKPI UAS: Menyuburkan Keimanan dan Meneguhkan Empati sebagai Akhlak Jiwa

Ngaji Empati Perdana BKPI UAS: Menyuburkan Keimanan dan Meneguhkan Empati sebagai Akhlak Jiwa
_
Jember – Suasana berbeda tampak di Aula Khofifah Indar Parawansa (KIP) Universitas Al-Falah Assunniyah (UAS) Kencong Jember pada Sabtu Legi, 13 Juni 2026. Ratusan mahasiswa bersama para dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) duduk lesehan dalam format majelis ilmu yang sederhana namun khidmat. Tidak ada presentasi akademik, tidak pula pelatihan teknis. Yang hadir adalah sebuah ruang refleksi batin yang menghubungkan ilmu, akhlak, dan perjalanan jiwa.

Hari itu menjadi penanda dimulainya program Ngaji Empati: Empati sebagai Akhlak Jiwa, sebuah ikhtiar baru yang digagas BKPI UAS untuk memperkuat dimensi ruhani, akhlak, dan orientasi transendensi calon konselor pendidikan Islam.

Kegiatan perdana tersebut dibuka secara resmi oleh Rektor Universitas Al-Falah Assunniyah Kencong Jember, Dr. H. Rijal Mumazziq Z., M.H.I. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pendidikan konselor tidak cukup hanya melahirkan lulusan yang menguasai teori dan teknik bimbingan konseling, tetapi juga harus melahirkan pribadi yang memiliki kejernihan hati dan kematangan jiwa.

Menurutnya, tantangan dunia modern bukan hanya persoalan akademik dan psikologis, melainkan juga krisis makna dan krisis keteladanan. Karena itu, kampus Islam memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan ruang-ruang pembinaan yang mampu menjaga hubungan antara ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai ketuhanan.

“Mahasiswa BKPI dipersiapkan menjadi pendamping dan penolong bagi banyak orang. Karena itu mereka harus terlebih dahulu belajar menjaga hati, menjaga niat, dan menjaga hubungan dengan Allah. Ilmu tanpa akhlak akan kehilangan arah, sementara akhlak tanpa ilmu akan kehilangan daya,” ujarnya.

Ketua Program Studi BKPI, Faisol Hakim, M.Pd.I., menjelaskan bahwa Ngaji Empati merupakan program pendamping akademik yang dirancang untuk menjadi penjaga ruh keilmuan BKPI. Program ini tidak diposisikan sebagai mata kuliah maupun pelatihan teknik konseling, melainkan sebagai ruang pengasahan jiwa yang berjalan beriringan dengan proses akademik mahasiswa.

“Ngaji Empati lahir dari kesadaran bahwa konselor tidak cukup dibentuk oleh teori dan keterampilan profesional. Seorang konselor harus memiliki kesadaran diri, kedewasaan emosi, empati yang beradab, produktivitas yang bermakna, dan orientasi hidup yang bertumpu pada nilai-nilai ilahiyah. Itulah yang ingin kami rawat bersama melalui program ini,” jelasnya.

Kajian perdana disampaikan oleh KH. Abdullah Khair Zad Maddah, yang selama ini dikenal sebagai pengkaji fiqih, tasawuf, dan akhlak dengan pendekatan hikmah yang dekat dengan tradisi pesantren. Dalam suasana semi-sorogan yang hangat, beliau mengangkat tema tentang pentingnya menjaga dan menyuburkan keimanan sebagai fondasi kehidupan dan fondasi empati.

Beliau mengawali kajian dengan mengingatkan bahwa iman bukanlah sesuatu yang cukup diwarisi, tetapi harus dijaga dan diperjuangkan sepanjang hayat. Menurutnya, banyak orang berbicara tentang keberhasilan hidup, tetapi lupa menjaga sumber utama dari seluruh kebaikan, yaitu keimanan.

Dengan bahasa yang lembut dan penuh hikmah, beliau menjelaskan bahwa salah satu ancaman terbesar terhadap keimanan adalah syirik dalam berbagai bentuknya, baik yang tampak maupun yang tersembunyi dalam orientasi hati. Keimanan juga dapat melemah ketika seseorang terbiasa berada dalam lingkungan yang menjauhkan dirinya dari kebaikan dan mengabaikan nasihat.

Karena itu, beliau mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan ruhani yang sehat dengan mendekat kepada para ulama dan orang-orang saleh.

عَلَيْكُمْ بِمُجَالَسَةِ الْعُلَمَاءِ

“Hendaklah kalian senantiasa duduk bersama para ulama.”

Menurut beliau, duduk bersama ulama bukan sekadar mencari tambahan pengetahuan, tetapi belajar adab, ketenangan, cara berpikir, dan cara memandang kehidupan. Di situlah seseorang belajar merawat hati dan memperoleh hikmah yang tidak selalu ditemukan dalam buku-buku.

Beliau kemudian melanjutkan bahwa salah satu cara menjaga iman adalah dengan memilih sahabat dan lingkungan yang baik. Dalam hal ini beliau mengingatkan sabda Rasulullah SAW:

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang mengikuti agama dan jalan hidup sahabat dekatnya, maka hendaklah ia memperhatikan dengan siapa ia bersahabat.”

Pesan tersebut disampaikan dalam konteks pembinaan calon konselor. Menurut beliau, seorang konselor harus tumbuh dalam lingkungan yang menghadirkan ketenangan, kejujuran, dan nilai-nilai kebaikan. Sebab hati manusia sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungan yang mengitarinya.

Mengutip hikmah para ulama tasawuf, beliau juga menjelaskan bahwa menjaga keimanan tidak cukup dengan memperbanyak pengetahuan, tetapi harus dibarengi dengan menjaga hubungan baik dengan sesama manusia. Dalam kajian tersebut beliau mengingatkan pentingnya menghindari perilaku yang menyakiti orang lain, sebab hati yang gemar menyakiti sesama akan sulit merasakan kelembutan iman.

Nilai empati yang menjadi tema besar program ini juga dikaitkan dengan sifat syafīq, yaitu kasih sayang yang lahir dari hati yang hidup. Menurut beliau, seorang yang beriman tidak hanya sibuk memperbaiki dirinya sendiri, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap kesulitan dan kebutuhan orang lain.

Pada bagian akhir kajian, KH. Abdullah Khair Zad Maddah mengajak peserta memahami bahwa salah satu wujud paling nyata dari keimanan adalah menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama.

Beliau mengutip sebuah hadits yang sangat populer:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”

Menurut beliau, ukuran kemuliaan seseorang tidak terletak pada jabatan, gelar akademik, ataupun banyaknya pengetahuan yang dimiliki. Kemuliaan justru lahir ketika ilmu dan keimanan mampu menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Pesan tersebut terasa sangat dekat dengan dunia bimbingan dan konseling yang sedang dipelajari para mahasiswa BKPI. Sebab pada akhirnya, konseling bukan sekadar pekerjaan profesional, melainkan jalan pengabdian untuk menghadirkan manfaat, ketenangan, dan harapan bagi sesama.

Ketua HMPS BKPI, Mujib Imanuddin, menilai bahwa Ngaji Empati memberikan pengalaman belajar yang berbeda dari ruang kuliah pada umumnya.

“Kami tidak hanya diajak memahami manusia melalui teori, tetapi juga diajak memahami hati dan diri kami sendiri. Ada nuansa ngaji roso, ngaji hikmah, yang membuat kami belajar bahwa menjadi konselor bukan hanya soal kemampuan berbicara, tetapi juga soal kualitas hati,” ujarnya.

Melalui Ngaji Empati, BKPI UAS Kencong berupaya menyambung sanad keilmuan akhlak dan pendidikan jiwa yang selama berabad-abad hidup dalam tradisi pesantren. Program ini menjadi ruang dialog antara khazanah bimbingan dan konseling modern dengan nilai-nilai Islam, sehingga lahir konselor yang profesional, empatik, berakhlak, dan bertauhid.

Di tengah derasnya arus pragmatisme dan orientasi teknis dalam pendidikan tinggi, Ngaji Empati hadir mengingatkan bahwa ilmu yang paling dalam bukan hanya yang memenuhi pikiran, melainkan yang mampu menerangi hati. Dan dari hati yang terjaga itulah empati tumbuh sebagai akhlak jiwa.

Bagikan berita ini