Lamongan — Di sebuah sudut Desa Nguwok, Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan, ratusan orang yang pernah kehilangan arah hidup menemukan kesempatan untuk memulai kembali. Di tempat itu, stigma perlahan berubah menjadi harapan, keterasingan berganti menjadi penerimaan, dan mereka yang pernah dianggap “tidak berdaya” kembali belajar menjadi manusia yang utuh.
Tempat itu adalah Pondok Rehabilitasi Mental Yayasan Berkas Bersinar Abadi (YBBA), yang diasuh oleh sosok yang akrab dikenal masyarakat sebagai Ipda Purnomo atau “Polisi Baik”, figur inspiratif yang kerap viral di media sosial karena dedikasinya merawat orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), orang terlantar, dan kelompok rentan dari berbagai penjuru Indonesia.
Pada Kamis (11/06/2026), puluhan mahasiswa Semester IV Program Studi Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) Universitas Al-Falah As-Sunniyah (UAS) Kencong bersama perwakilan HMPS BKPI berkesempatan belajar langsung di lokasi tersebut melalui kegiatan Studi Autentik Mata Kuliah Patologi Sosial.
Bagi sebagian mahasiswa, kunjungan ini menjadi pengalaman yang mengubah cara pandang mereka terhadap gangguan mental dan realitas sosial yang selama ini hanya dipelajari melalui buku dan ruang kelas.
Di bawah pendampingan Ketua Program Studi BKPI, Faisol Hakim, M.Pd.I, dan dosen pengampu Mata Kuliah Patologi Sosial, Dr. Akhmad Rudi Masrukhin, M.Pd., mahasiswa diajak melihat secara langsung bagaimana proses rehabilitasi dijalankan, bagaimana para pasien dibina, dan bagaimana nilai-nilai kemanusiaan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Faisol Hakim, kegiatan ini merupakan bentuk komitmen Prodi BKPI untuk menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga pengalaman nyata di lapangan.
“Mahasiswa perlu belajar dari realitas. Mereka harus melihat bahwa di balik istilah patologi sosial, gangguan mental, atau penyimpangan sosial, terdapat manusia yang membutuhkan penerimaan, pendampingan, dan harapan untuk bangkit kembali,” ujarnya.
Sementara itu, Dr. Akhmad Rudi Masrukhin menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak sekadar kunjungan, melainkan bagian dari proses akademik berbasis mini riset. Mahasiswa dibagi ke dalam tiga klaster kajian yang meliputi faktor penyebab gangguan mental, model rehabilitasi yang diterapkan yayasan, serta transformasi sosial yang dialami para klien setelah menjalani proses pemulihan.
“Mahasiswa tidak hanya melihat, tetapi juga mengamati, mewawancarai, mendokumentasikan, dan menganalisis. Mereka belajar memahami manusia dari dekat, bukan dari asumsi,” jelasnya.
Salah satu momen yang paling berkesan terjadi ketika Ipda Purnomo berbagi kisah tentang perjalanan panjangnya merawat ratusan pasien dari berbagai daerah di Indonesia. Di tengah keterbatasan, beliau tetap memilih untuk terus mengabdi, meyakini bahwa setiap manusia berhak mendapatkan kesempatan kedua.

Di hadapan mahasiswa, beliau menyampaikan pesan sederhana namun mendalam.
“Kalau ingin hidup bermanfaat, jangan berhenti berbuat baik. Tetap istiqamah. Allah tidak pernah salah menghitung kebaikan hamba-Nya. Mungkin tidak langsung terlihat, tetapi Allah tidak akan pernah meleset dalam memberikan balasan.”
Pesan tersebut seolah menjadi pelajaran paling berharga dari seluruh rangkaian kunjungan. Bahwa ilmu bukan hanya tentang memahami teori, tetapi juga tentang menghadirkan empati, kepedulian, dan keberanian untuk hadir bagi sesama.

Kegiatan studi autentik ini diharapkan menjadi awal dari kerja sama yang lebih luas antara Program Studi BKPI UAS Kencong dan Yayasan Berkas Bersinar Abadi, baik dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, maupun penguatan kompetensi mahasiswa.
Lebih dari sekadar kunjungan akademik, perjalanan ini mengingatkan bahwa di tengah berbagai persoalan sosial yang terus berkembang, selalu ada orang-orang yang memilih menjadi bagian dari solusi. Dan dari tempat sederhana di Desa Nguwok itu, mahasiswa BKPI belajar bahwa konseling, pendidikan, dan kemanusiaan pada akhirnya bertemu pada satu tujuan yang sama: membantu manusia menemukan kembali harapan dalam hidupnya.